Showing posts with label Artikel PA. Show all posts
Showing posts with label Artikel PA. Show all posts

Monday, May 4, 2009

PIKIRAN DAN MIMPI SEORANG PETANI



PIKIRAN DAN MIMPI SEORANG PETANI

Siang hari yang terik, angin sepoi-sepoi menerpa wajah yang berkeringat, sekian menit berlalu namun tak jua keringkan dan hapuskan lelah; wajah bersahaja seorang petani yang menikmati hidup di alam Indonesia di mana dia telah terlahir, ayah ibunya terlahir, kerabat-kerabatnya terlahir, sahabat-sahabatnya terlahir, anak cucunya terlahir, bahkan tak pernah ia bermimpi untuk menutup mata di negeri lain selain “INDONESIA’’. Dia paham betul bagaimana Indonesia tentang perjuangannya, tentang darah dan pengorbanan pahlawan-pahlawannya, tentang budaya luhur dan simbol-simbol kebenaran, tentang kebanggaan dwi warna, tentang indah negeri “Nyiur Melambai”. Pikirannya melayang akan sesuatu, akan perubahan-perubahan jaman, akan perubahan-perubahan yang berbalik arah, tentang semangat reformasi yang dijadikan tameng kebebasan; lamunannya tercurah bagai air terjun yang begitu derasnya:

1. Pikiran petani itu tentang bait-bait nasionalisme

Andai kata berjuta-juta roh pahlawan dapat didengar suaranya, mungkin di jaman republik yang luluh lantak oleh slogan-slogan nasionalisme anak negerinya roh pahlawan itu akan menangis sejadi-jadinya, meraung, meratap sesal, sebab sesuatu yang telah berubah nilai. Sesak dada petani itu, batinya teriris-iris ketika nyanyian “INDONESIA RAYA’’ Sudah tak lagi khidmat, tak mampu membuat bulu kuduk merinding, tak mampu membangkitkan semangat, bahkan sebagian generasi muda memilih lari dari upacara meninggalkan nyanyian dan membiarkan sang dwi warna naik dengan sendirinya...”duhai pahlawanku, mampu apa aku atas semua itu??”...”biarlah saja aku akan mengajari anak-anakku, anak-anak desaku untuk menjunjung tinggi nama Indonesia,menghargai jasa-jasa pahlawannya, agar kelak mereka paham bahwa Indonesia ini berdiri bukan karena belas kasihan kaum penjajah, tapi karena darah dan perjuangan yang suci”.

2. Pikirannya tentang arti kesatuan yang damai dan tenteram

Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa; terngiang dalam batinnya ikrar pemuda 28 Oktober 1928, duh indahnya..Petani itu sedih bukan karena pecahnya negara tercinta, namun dia sedih karena begitu kuat putaran jaman merubah arti dan nilai-nilai kesatuan bangsa, beragam pertanyaan yang muncul dalam benaknya: di mana letak persatuan itu, ketika ibu pertiwi menggigil oleh perbedaan-perbedaan politik anak-anak bangsa?, benarkah kita telah bersatu, tapi hanya diukur dari ikrar manis bibir saja?, sadarkah kita telah terpecah belah dan terkotak-kotak oleh sistem yang diajarkan dan telah mengakar?

Sederhana saja petani itu berpikir, bila seluruh rakyat Indonesia paham akan bahasa persatuan, arti penting kebersamaan, konsep perubahan yang baik untuk negeri tercinta dia mengajak duduk bersila, mengelilingi lambang negara burung garuda dan sang saka merah putih, lalu sejenak melupakan perbedaan, melepaskan dendam dan amarah, menghentikan ocehan-ocehan provokatif, dan sejenak menikmati secangkir kopi nusantara, dan memulai bicara dengan senyum dan dari hati nurani.

3. Pikirannya tentang kesejahteraan yang adil dan beradab

Dia tersenyum lalu bergumam dalam hati: “aku yakin akan terjadi perbedaan antara pikiranku dan para petinggi negara, sebab kesejahteraan menurutku adalah rakyat, rakyatlah sebagai tolak ukur kesejahteraan itu, cukup bagiku aku dan keluargaku dapat makan, minum dan berteduh di sebuah rumah kecil dan mungil, sebidang sawah tempat aku bermain dengan pacul dan bibit-bibit padiku setiap hari. Aku tak menuntut apa-apa dari para petinggi negara, tak perlu ada BLT, tak perlu ada dana kompensasi yang akhirnya akan memperkeruh kemuliaan tujuan, menjadi kebijakan yang harus dituding dan dikritik habis-habisan, sebab aku telah diajarkan oleh nenek moyangku untuk tidak hanya sekedar “Menadahkan tangan” untuk sesuatu yang sesungguhnya aku mampu dari tenaga dan pikiranku.

Pernahkah petinggi-petinggi negara berpikir, agar seluruh rakyat Indonesia dapat berpikir seperti aku? Seorang petani yang selalu bangga atas kemampuan sendiri, seorang petani yang berdiri di atas kakinya sendiri (BERDIKARI).

Bukan maksud petani itu menolak konsep dan kebijakan tentang kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan, petani itu hanya berkeinginan adanya pemerataan yang benar-benar rata dan adil, dia pun paham begitu sulit mengatasi hal itu, apalagi yang berhubungan dengan perut rakyat. Dan petani itu tersenyum dalam hatinya berkata : “besok aku harus lebih giat lagi bertani, mencangkul lahan, siapa tahu hasil panen kali ini berlimpah, amin!!!”

4. Pikirannya tentang penegakan hukum yang katanya Indonesia adalah Negara Hukum

Dia tak mengerti apa tentang hukum, tentang aturan-aturan hukum tapi sedikitnya dia tahu bahwa hukum itu ada karena rakyat menginginkan ketertiban dan kepastian hukum.

Kenapa begitu sulit menegakkan hukum di negara Indonesia yang menjunjung tinggi moralitas hukum, bukankah kita telah punya segala aturan-aturan hukum dengan segala hierarkisnya, telah ada aparatur yang menegakkannya, telah ada lembaga peradilan yang menyelesaikannya.

Apa yang tidak beres di negeri ini? Aturan hukumnyakah? Atau aparatur penegak hukumnya?

Selayang pandang petani itu berkhayal, bila aku jadi hakim,maka aku akan menjadi hakim yang adil, yang salah kuputuskan salah, yang benar kukatakan benar;dan bila aku menjadi jaksa maka aku akan menjadi seorang jaksa yang menjunjung kebenaran dan rasa keadilan tak perlu bagiku memanipulasi kasus,memeras orang-orang yang dalam sengketa, apalagi memperjualbelikan dokumen dan barang bukti, bila aku jadi pengacara dan penasihat hukum, maka aku akan menjadi pengacara yang selalu mengedepankan kebenaran, bukan kebenaran yang diskenariokan lalu bagi-bagi upeti, atau dana keringanan hukuman, bila aku jadi polisi,maka aku akan menjadi tauladan dan mengayomi rakyat; semua itu aku lakukan bukan hanya ada dan melekat pada lencana, sumpah jabatan dan sederet tanda penghargaan yang menempel indah dan memenuhi baju kebesaranku.

Begitu sederhana pikiran dan khayalan petani itu, antara mungkin dan sangat mengarah pada “tidak mungkin”, tapi setidaknya petani itu menggugah kesadaran, tak terasa air matanya menetes tepat di ujung paculnya yang berkilau tajam, dalam hatinya berkata : “bukankah setiap perbuatanku, sejengkal langkahku, sedetik waktuku, sepotong kata-kataku harus aku pertanggungjawabkan kehadapan Allah,SWT,raja sekalian alam,hakim agung yang sesungguhnya agung??”

5. Pikirannya tentang Demokrasi Rakyat atau Rakyat Berdemokrasi

Dalam pikirannya demokrasi itu salah satunya adalah PEMILU (Pemilihan Umum) yang memilih wakil rakyat yang nantinya akan dipercaya mengemban amanat rakyat, penyambung lidah rakyat, pembela rakyat, benteng pertahanan rakyat, tidur bersama-sama dengan penderitaan rakyat, maka seharusnya wakil rakyat juga tahu mencangkul seperti aku (petani itu tertawa dalam hati).

Rampai ingatannya akan cerita-cerita jaman dulu, jaman kerajaan-kerajaan termasyhur nusantara, ketika diadakan pemilihan pangeran perang, maka terpilih adalah kesatria gagah pemberani, seorang kesatria yang pantas dipilih karena keahlian perangnya, yang dicintai rakyat dan prajurit-prajuritnya, yang loyal dan siap berkorban jiwa dan raga demi panji-panji kerajaannya, maka pangeran perang itu terpilih secara aklamasi meskipun ada beberapa kandidat masa itu; begitu damai pemilihan itu sehingga kandidat yang kalah pun merasakan kemenangan bersama.

Lalu petani itu berpikir, apakah pemilihan pangeran perang masa itu melalui kampanye-kampanye yang menyudutkan dan membakar semangat perpecahan?, apakah pemilihan masa itu melalui tekanan politik atau intimidasi kepentingan?, apakah rakyat dan prajurit-prajurit yang memilih, tergiur karena janji-janji politik perangnya? Kesatria itu berhasil karena rakyat, dan tanpa mengeluarkan sepeser pun upeti!!!

Petani itu tersenyum berbeda makna,ketika dengan cermat mengikuti perkembangan hasil pemilu yang sekarang; betapa tidak, dalam satu minggu atau satu bulan terakhir sebelum Pemilihan Umum, miliaran rupiah bahkan trilyunan rupiah telah tertumpah ruah di bumi Indonesia, beredar ke seluruh pelosok negeri melalui kantong-kantong kedermawanan para calon legislatif (katanya seperti itu,dan siapa bilang orang Indonesia miskin??,red) yang berusaha membeli kepercayaan rakyat melalui cara yang super instan “politik uang”.

Lalu petani itu lagi-lagi tersenyum, lalu berkata dalam hatinya, apakah kepercayaan rakyat itu harus dibeli dengan rupiah?, siapa yang memulai politik seperti ini? Rakyatkah yang menuntut atau pemimpinnya yang kehilangan rasa kepercayaan rakyat?, mengapa rakyat Indonesia (konstituen) mau menerima uang sogokan yang mengatasnamakan kedermawanan itu?, bagaimana rupa wajah parlemen bila wakil rakyat melakukan politik seperti itu?, apa yang mereka mampu perbuat untuk rakyat?,wajarlah banyak yang stres dan gila karenanya!!!

Kembali petani itu menitikkan air mata, namun kali ini air mata itu kering dan dengan mudah diseka oleh raut wajahnya yang getir. “Ini harus di ubah”,”cara ini salah dan benar-benar gila”.

Pernahkah para petinggi negara, ahli pikir negara, tokoh panutan negara, tokoh masyarakat dan tokoh agama memikirkan dan melakukan tindakan “bagaimana mengajari rakyat berpolitik secara santun, jujur dan sesuai dengan hati nurani?”.

Bila Money politik itu salah, katakan salah,katakan perang terhadap unsur-unsur Money politik bagaimanapun bentuknya, katakan haram dan buat fatwa kebenaran, buat aturan yang tegas, dan tegakkan setegak-tegaknya.

Duhai rakyatku senasib sepenanggungan , ubahlah cara berpikir kita tentang pemimpin, jangan mau ditipu oleh lembaran-lembaran rupiah yang secara sengaja atau tidak sengaja telah kita belanjakan untuk makan dan minum anak istri kita, kita berdosa karena itu, kita zalimi hidup kita, kita titipkan suatu dosa yang besar untuk anak cucu kita, untuk negeri kita tercinta INDONESIA (akhir kalimat dan bahasa hati petani, yang telah tertidur lelap di alam mimpi panen yang berlimpah). M E R D E K A !!!!

Penulis : SUHENDRI MS, SH

Tuesday, October 14, 2008

QUO VADIS MAPALA

MAPALA singkatan dari Mahasiswa Pecinta Alam. Terkadang ada juga yang mengartikan Mahasiwa Paling Lama kuliahnya (mahasiswa abadi). Mereka juga di identikkan dengan orang-orang yang beraliran “sayap kiri” yang super cuek, sulit di atur berpakaian seenaknya serta suka mabuk-mabukkan.

Opini dimasyarakat yang menyebutkan bahwa sosok dari pecinta alam tersebut terkadang terkesan selalu “negatif”. Kesan negatif tersebut timbul mungkin bisa

Karena penampilan dari mereka yang menamakan dirinya pecinta alam itu sendiri yang sering kelihatan lusuh, kumal, berambut gondrong, seadanya (meskipun tidak semuanya pecinta alam berpenampilan seperti ini).

Mungkin juga karena orang sering melihat kegiatan pecinta alam berkesan hura-hura, dan atau tidak mau tahu dengan lingkungan sekitarnya, bisa

Pula karena kegiatan pecinta alam dianggap sebagai kegiatan yang mubazir dan buang-buang waktu, tenaga, serta uang hanya untuk menyalurkan hobby menantang maut, minat dan bakat tanpa mempunyai arti dan tujuan yang nyata (meskipun hal ini tidak semuanya benar). Meskipun demikian, tidak sedikit kelompok atau organisasi pecinta alam yang melakukan kegiatan positif seperti ikut dalam operasi SAR, membantu masyarakat terasing, atau konservasi alam.

Terlepas dari semua itu, kehadiran mahasiswa pecinta alam tidak terlepas dari sejarah dunia kemahasiswaan di Indonesia, dimana pada dekade tahun 70-an aktivitas mahasiswa yang berorientasi pada politik praktis semakin dibatasi. Disamping itu pula terdapat rasa kejenuhan dengan kondisi politik pada masa itu hal ini menciptakan situasi dan kondisi aktivitas mahasiswa “lesu darah”.

Kondisi itu semakin bertambah dengan dikeluarkannya SK No. 028/3/1978 tentang pembekuan total kegiatan Dewan Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA) di seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia yang kemudian melahirkan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).

Dengan kondisi yang demikian, kemudian melahirkan ide untuk membentuk suatu wadah baru dalam bentuk kegiatan lain yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang mempunyai hobby dan minat yang sama, yaitu sama-sama menyukai kegiatan di alam bebas seperti pendakian gunung, memanjat tebing, menelusuri lorong-lorong kegelapan di dalam gua, arung jeram, dan lain sebagainya.

Yang tidak kalah pentingnya pada perkembangan selanjutnya adalah aktivitas kepecintaalaman juga diwarnai oleh sikap keberpihakkan kepada alam serta lingkungan hidupnya, sehingga organisasi/kelompok pecinta alam yang tumbuh di lingkungan Perguruan Tinggi tidak hanya berkegiatan alam bebas melulu, akan tetapi kegiatan lingkungan hidup juga mendapatkan porsi yang seimbang dengan kegiatan petualangan di alam bebas.

Dimulai oleh Mapala UI, organisasi/kelompok pecinta alam tersebut tumbuh dan berkembang subur dalam lingkungan Perguruan Tinggi di negeri ini, baik ditingkat universitas maupun dilingkungan fakultas.

Pecinta alam kalau diartikan yaitu berasal dari kata cinta dan alam. Cinta mengandung arti menyukai, menyayangi, dan mengagumi. Alam mengandung arti segala yang ada di sekitar,baik berupa benda mati ataupun benda hidup. Sehingga dari kata cinta menjadi pecinta yang menunjuk kepada subyek yaitu orang.

Tapi, sampai sekarang belum ada definisi yang pas dengan apa itu pecinta alam. Sebab kata pecinta alam itu mengandung pengertian yang sangat luas. Hal ini selalu menjadi perdebatan yang hangat dalam setiap pertemuan tahunan secara nasional dalam Temu Wicara dan Kenal Medan ( TWKM) Mahasiswa Pecinta Alam Se-Indonesia atau pada Gladian Nasional yang diadakan 2 (dua) tahun sekali. Sehingga forum tersebut juga tidak bisa merumuskan pengertian dari istilah Pecinta Alam dan diserahkan kembali kepada organisasi/kelompok masing-masing bagaimana “menginterpretasikan” istilah tersebut.

Meskipun sampai sekarang belum ada yang bisa merumuskan istilah Pecinta Alam, namun dilihat dari kegiatannya bisa dibedakan dalam beberapa kelompok yakni : Kelompok pertama adalah mereka yang hanya menggeluti kegiatan alam bebas dengan misi untuk menyalurkan hobby dan minat bertualang di alam bebas. Kegiatannya meliputi pendakian gunung, pemanjatan tebing dan penelusura gua.Kedua, kelompok yang selain melakukan kegiatan petualangan, juga melakukan kegiatan yang berorientasi pada penyelamatan lingkungan hidup, sehingga pada perkembangannya kegiatan kepencintaalaman menjadi semakin luas. Selain bertualang mereka juga melakukan konservasi alam, pengamatan sosial-ekonomi-budaya masyarakat, hingga operasi SAR. Kelompok inilah yang paling banyak dilakukan oleh organisasi/ kelompok Mahasiswa pecinta alam. Banyak sudah korban yang “berguguran” dalam kegiatan “menantang maut” namun penuh “cinta kasih” ini, demikian juga dharma bakti mereka pada tanah tercinta ini dalam hal konservasi alam (meski tidak tercatat dalam buku sejarah) namun trade marknya sebagai kelompok sayap kiri sulit dihapuskan.Baik buruknya kegiatan yang hanya bisa digeluti oleh orang-orang yang mempunyai nyali ini tergantung dari sudut mana orang memandangnya. Dan hanya orang-orang ariflah yang bisa memahami mereka.

B.masin, 25 Oktober 2001
By. Temy @mrullah,
MPAF/Kabut-102/97

“ Hidup adalah soal keberanian. Keberanian menghadapi tanda tanya tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa mengelak. Terimalah dan Hadapilah

(Soe Hok Gie) “.

MENJADI PECINTA ALAM SEJATI

Menjadi Pencinta Alam Sejati

Hidup adalah soal keberanian. Keberanian menghadapi
tanda tanya tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa
mengelak. Terimalah dan Hadapilah (Soe Hok Gie)

Gila! Barangkali itulah anggapan sebagian orang bila
memandang sekelompok pemuda yang menghabiskan waktunya
di lereng dan puncak gunung, di kedalaman gua-gua
bumi, atau di kedalaman samudera. Wajah mereka lusuh,
kumal, gondrong, dan tak jarang tampil nyentrik dan
nyeleneh. Bila ada manusia yang mau mengenakan
klenengan sapi, barangkali hanya merekalah orangnya.

Itulah wajah pecinta alam. Sesuai namanya, mereka
menamakan dirinya manusia yang mencintai alam baik
gunung, laut, bukit, gua, padang belantara, dan
sebagainya. Tahukah kamu bagaimana semua itu bisa
terjadi?

Dirunut-runut sih sebetulnya sejarah manusia tidak
jauh-jauh amat dari alam. Sejak zaman prasejarah
dimana manusia berburu dan mengumpulkan makanan, alam
adalah "rumah" mereka. Gunung adalah sandaran kepala,
padang rumput adalah tempat mereka membaringkan tubuh,
dan gua-gua adalah tempat mereka bersembunyi.

Namun sejak manusia menemukan kebudayaan, yang katanya
lebih "bermartabat", alam seakan menjadi barang aneh.
Manusia mendirikan rumah untuk tempatnya bersembunyi.
Manusia menciptakan kasur untuk tempatnya membaringkan
tubuh, dan manusia mendirikan gedung bertingkat untuk
mengangkat kepalanya. Manusia dan alam akhirnya
memiliki sejarahnya sendiri-sendiri.

Ketika keduanya bersatu kembali, itulah saatnya
sejarah pecinta alam dimulai.

Pada tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah
pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing
Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Saat
itu belum jelas apakah mereka ini tergolong pendaki
gunung pertama. Namun beberapa dekade kemudian,
orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di
Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis
kambing gunung. Barangkali mereka itu pemburu yang
mendaki gunung. Tapi inilah pendakian gunung yang
tertua pernah dicatat dalam sejarah.

Di Indonesia, sejarah pendakian gunung dimulai sejak
tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan "Pegunungan
sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju" di
Papua. Nama orang Eropa ini kemudian digunakan untuk
salah satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya
yakni Puncak Cartensz.

Pada tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang
dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di
Prancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi




8840 meter ditemukan. Orang Nepal menyebutnya
Sagarmatha, atau Chomolungma menurut orang Tibet

Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun
1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari
Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung
dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itu,
pendakian ke atap-atap dunia pun semakin ramai.

Di Indonesia sejarah pecinta alam dimulai dari kampus
pada era tahun 1970-an. Pada saat itu kegiatan politik
praktis mahasiswa dibatasi dengan keluarnya SK
028/3/1978 tentang pembekuan total kegiatan Dewan
Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan konsep
Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Para mahasiswa
itu, diawali dengan berdirinya Mapala Universitas
Indonesia di era yang sama, membuang energi mudanya
dengan merambah alam mulai dari lautan sampai ke
puncak gunung.

Sejak itulah pecinta alam pun merambah tak hanya
kampus, melainkan ke sekolah-sekolah, ke bilik-bilik
rumah ibadah, sudut-sudut perkantoran atau
kampung-kampung. Semua yang pernah menjejakkan kaki di
puncak gunung sudah merasa sebagai pecinta alam.

Dan pecinta alampun merambah Shine sejak awalnya
berdiri. Dimulai dari puncak Gunung Bromo pada tahun
1997, Shine pun sudah sampai ke Puncak Semeru, Gunung
Gede, Gunung Sindoro, Gunung Merbabu, Gunung Salak,
Gunung Lawu, dan Merapi. Shine pun pernah merambah
kawasan pantai di Pelabuhan Ratu, Pulau Seribu, dan
Ngarai Sianok di Bukit Tinggi.

Seperti ucapan Soe Hok Gie di awal tulisan ini,
prinsip seorang pecinta alam itu barangkali adalah
memiliki keberanian untuk menghadapi tanda tanya tanpa
kita bisa mengerti, tanpa kita bisa mengelak melainkan
menerima dan menghadapi. Itulah mengapa tak jarang
menjadi pecinta alam juga membuat kita menghadapi
resiko kematian. Gie adalah salah satu korbannya.

Sebahaya itukah menjadi pecinta alam? Bisa ya dan bisa
tidak. Bagi pecinta alam sejati, alam adalah sebuah
rahasia atau misteri. Sebuah coretan di Gunung Lawu
baru-baru ini mengatakan, "Jangan menjadikan alam
tantangan". Bisa jadi ada benarnya. Semakin pecinta
alam merasa bahwa alam adalah tantangan maka semakin
alam menjadi seperti musuh yang harus ditaklukkan.

Padahal, alam bukan musuh. Alam itu seperti garbha
grha di sebuah candi. Ibarat rahim ibu, tempat kita
lahir. Di dalamnya termaktub rahasia kehidupan, sejak
asal mula, sampai kepada kematian. Bagaimana kita
mengetahui rahasianya selain menceburkan diri dan
mencintainya? Inilah hakekat pecinta alam sejati.

deddy sinaga (dari berbagai sumber
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” (Soe Hok Gie)