Friday, October 17, 2008

Gletser Jayawijaya

Glatser Jaya wijaya
Sulit dipercaya saat melihat sebuah pemandangan salju yang berada di daerah panas karena beriklim tropis. Terlebih jika pemandangan salju itu terhampar di puncak-puncak gunung dengan dindingnya yang berwarna kehitaman.Saat ini, salju yang tersisa hanya berada di Puncak Jaya, Meren, Northwall, dan Ngga Pulu. Sebelum berubah nama menjadi Puncak Jaya, puncak ini dahulunya bernama Carstenz Pyramide.
Puncak Jaya yang bersalju ini merupakan salah satu puncak gunung gletser yang ada di kawasan khatulistiwa, seperti puncak es lainnya yang berada di Afrika dan Amerika Selatan.
Dari udara, puncak tersebut mirip bebatuan hitam dengan permadani putih yang lembut. Saat matahari sedang bersinar cerah, hamparan salju itu memantulkan cahaya yang menyilaukan mata. Pandangan mata akan lebih nikmat saat langit sedang berawan sehingga hamparan salju itu akan memunculkan kesan kedamaian di tengah teduhnya cuaca.
Puncak dengan lereng yang sangat curam itu menampilkan pesona alam yang sulit dicari bandingannya. Dindingnya yang hitam berdiri hampir tegak lurus dengan permukaan tanah yang berada ratusan meter di bawahnya.
Pemandangan salju es sungguh memukau. Apalagi jika memasuki akhir tahun di mana musim dingin dan hujan tiba. Di musim itu, biasanya salju menutupi hampir semua puncak Pegunungan Jayawijaya hingga ke lereng di bawahnya.
Jayawijaya merupakan sebuah gunung yang juga dikenal sebagai Gunung Orange yang berada di Pulau Papua. Gunung ini memiliki ketinggian 4750 m dpl, yaitu di puncak trikora. Jayawijaya merupakan salah satu dari 5% cadangan es dunia yang berada di luar Antartika dan Greenland. Dilihat dari keberadaan gletsernya yang berada di sebuah pegunungan, maka gletser Jayawijaya merupakan bentang alam glasial tipe Alpine Glaciation. Dilihat dari tipe gletsernya, gletser Jayawijaya merupakan tipe Valley Glacier. Valley glacier merupakan gletser pada suatu lembah dan dapat mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Pada valley glacier juga terdapat anak sungai.
Dari penelitian sudah jelas ada berberapa periode zaman es kemudian ada periode hangat tapi kataklysmik tidak - semacam periodik siklus dingin kemudian panas - justru siklus panas sekerang berjalan +/- 10,000 tahun dan walaupun ada efek dari bakar hidrokarbon ini hanya mempercepat proses yang sudah berjalan selama ribuan tahun ingat 500 tahun yang lalu Carstenz bisa lihat salju diatas pergunungan dari laut; sekarang sudah mencuit supaya mungkin tingal hanya 1% dari apa yang ada dalam zaman Carstenz dan yang zaman Carstenz mungkin kurang dari 1% dari apa yang ada 10,000 tahun yang lalu.
Berkurangnya jumlah gletser yang ada di puncak jaya dapat diakibatkan oleh banyak hal. Penyebab utama lenyapnya tudung es atau es abadi pegunungan Jayawijaya itu menurut hasil penelitian para ahli gletser dan lingkungan hidup CSIRO Australia, semacam LIPI di Indonesia, disebabkan pemanasan global dan perubahan cuaca akibat perubahan iklim dunia.
Karena itu menciutnya padang es abadi itu bukan akibat kegiatan pertambangan emas dan tembaga yang sedang dilakukan PT Freeport Indonesia, sekitar 15 kilometer dari kaki pegunungan Jayawijaya, kata Kepala Departemen Lingkungan Hidup PT reeport Indonesia, Wisnu Susetyo Phd.
Karena itu gletser ini diperkirakan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan mengalami nasib yang sama dengan gletser di Papua Nugini (PNG) yang lenyap akibat pemanasan global kata wisnu.
Dijelaskan dalam penelitian para pakar CSIRO selain menggunakan peralatan mutakhir juga menggunakan sinar infra merah yang peka terhadap panas sehingga terungkap bahwa penyebab utama menyusutnya luas tudung es Jayawijaya akibat pemanasan global.
Pada prinsipnya, karena perubahan suhu adalah fenomena yang tidak merata, maka kutub-kutub mengalami kenaikan suhu lebih banyak daripada kawasan ekuator; dan benua lebih meningkat suhunya dibanding kawasan samudera. Ini telah dibuktikan antara lain dengan runtuhnya “sekeping” gletser Antartika (kurang lebih sebesar Pulau Bali!) dan tercebur ke dalam Samudera Atlantik Selatan. Pencairan es di kutub-kutub menjelaskan terjadinya kenaikan permukaan air laut. Pada awal 1995 terjadi banjir pada musim dingin yang melanda berbagai kawasan Eropa Utara karena meningginya permukaan air laut. Pada musim semi sebelumnya, Cina mengalami banjir karena mencairnya salju yang lebih cepat, dan membunuh hampir 2000 jiwa.
Melelehnya es di puncak-puncak Pegunungan Alpen juga mulai menyembulkan batu-batu cadas yang selama ribuan tahun sebelumnya tersembunyi di balik salju. Di seluruh dunia pun terjadi perubahan cuaca yang ganjil. Musim dingin yang kurang dingin, tetapi kadang-kadang dikejutkan dengan badai salju yang sangat dingin. Musim kemarau yang berkepanjangan di daerah khatulistiwa dan musim hujan yang semakin tak beraturan. Dan, yang terakhir ini, fenomena El Nino. Tak usah jauh-jauh. Penduduk Jakarta bisa melihat kawasan Puncak sekarang yang tidak sehijau di masa lalu.
Untuk menyelamatkan tudung es ini pakar CSIRO Australia juga angkat tangan karena hingga saat ini belum ditemukan cara yang efektif untuk mengatasi penyusutan gletser akibat pemanasan global.
Para ahli Australia yang tertarik dengan keanehan tudung es Jayawijaya hingga sangat antusias untuk menyelamatkan salah satu objek wisata utama di Irja ini tidak mampu berbuat banyak.
Terbentuknya Gletser Di Jayawijaya
BAGI pendaki gunung, mendaki jajaran Pegunungan Jayawijaya adalah sebuah impian. Betapa tidak, pada salah satu puncak pegunungan itu terdapat titik tertinggi di Indonesia, yakni Carstensz Pyramide dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Jangan heran jika pendaki gunung papan atas kelas dunia selalu berlomba untuk mendaki salah satu titik yang masuk dalam deretan tujuh puncak benua tersebut. Apalagi dengan keberadaan salju abadi yang selalu menyelimuti puncak itu, membuat hasrat kian menggebu untuk menggapainya.
Tetapi, siapa yang menyangka jika puncak bersalju itu dahulunya adalah bagian dari dasar lautan yang sangat dalam!
Pulau Papua mulai terbentuk pada 60 juta tahun yang lalu. Saat itu, pulau ini masih berada di dasar laut yang terbentuk oleh bebatuan sedimen. Pengendapan intensif yang berasal dari benua Australia dalam kurun waktu yang panjang menghasilkan daratan baru yang kini bernama Papua. Saat itu, Papua masih menyatu dengan Australia.
Keberadaan Pulau Papua saat ini, lanjutnya, tidak bisa dilepaskan dari teori geologi yang menyebutkan bahwa dunia ini hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Pada kurun waktu 240 juta hingga 65 juta tahun yang lalu, benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benua Laurasia dan benua Eurasia, yang menjadi cikal bakal pembentukan benua dan pegunungan yang saat ini ada di seluruh dunia.
Pada kurun waktu itu juga, benua Eurasia yang berada di belahan bumi bagian selatan pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia.
Saat itu, benua Australia dengan benua-benua yang lain dipisahkan oleh lautan. Di lautan bagian utara itulah batuan Pulau Papua mengendap yang menjadi bagian dari Australia akan muncul di kemudian hari.
Pengendapan yang sangat intensif dari benua kanguru ini, sambungnya, akhirnya mengangkat sedimen batu ke atas permukaan laut. Tentu saja proses pengangkatan ini berdasarkan skala waktu geologi dengan kecepatan 2,5 km per juta tahun.
Proses ini masih ditambah oleh terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua.
Akhirnya proses pengangkatan yang terus-menerus akibat sedimentasi dan disertai kejadian tektonik bawah laut, dalam kurun waktu jutaan tahun menghasilkan pegunungan tinggi seperti yang bisa dilihat saat ini.
Bukti bahwa Pulau Papua beserta pegunungan tingginya pernah menjadi bagian dari dasar laut yang dalam dapat dilihat dari fosil yang tertinggal di bebatuan Jayawijaya.
Meski berada di ketinggian 4.800 mdpl, fosil kerang laut, misalnya, dapat dilihat pada batuan gamping dan klastik yang terdapat di Pegunungan Jayawijaya. Karena itu, selain menjadi surganya para pendaki, Pegunungan Jayawijaya juga menjadi surga para peneliti geologi dunia.
Sementara terpisahnya daratan Australia dengan Papua oleh lautan berawal dari berakhirnya zaman es yang terjadi pada 15.000 tahun yang lalu. Mencairnya es menjadi lautan pada akhirnya memisahkan daratan Papua dengan benua Australia.
Masih banyak rahasia bebatuan Jayawijaya yang belum tergali. Apalagi, umur Pulau Papua ini masih dikategorikan muda sehingga proses pengangkatan pulau masih terus berlangsung hingga saat ini. Ini juga alasan dari penyebutan Papua New Guinea bagi Pulau Papua, yang artinya adalah sebuah pulau yang masih baru.
Sementara keberadaan salju yang berada di beberapa puncak Jayawijaya, diyakininya akan berangsur hilang seperti yang dialami Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Hilangnya satu-satunya salju yang dimiliki oleh pegunungan di Indonesia itu disebabkan oleh perubahan iklim secara global yang terjadi di daerah tropis.

DI KOPAS : http://aapgscundip.wordpress.com/2008/07/22/glatser-jaya-wijaya/

Sumber:
http://www.republika.co.id/9704/15/15XSAL.094.html
http://www.antara.co.id/currissue/97/9/11/I32.html
http://www.infopapua.com/
http://www.merbabu.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Jayawijaya_Mountains
http://www.mail-archive.com/envorum@ypb.or.id/msg00040.html


“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” (Soe Hok Gie)